setelah sekian tahun ku miliki perasaan ini untuknya, aku jenuh, letih. dia tak kunjung sadar dan paham akan segala tindak-tandukku padanya. segala cara telah kulakukan, do’a-do’a telah kupanjatkan, namun dia tak kunjung menoleh kepadaku. hingga akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri segalanya. dan entah darimana asalnya, perasaan itu hilang begitu saja. tanpa peringatan, tanpa pengorbanan berarti, tiba-tiba kepalaku dan pikiranku menjadi jernih, dan…segala perasaan tidak enak itu hilang.
oh, jadi begini rasanya kalau kita tidak menyukai seseorang?
selama ini aku selalu memiliki seseorang untuk aku perhatikan, untuk aku kasihi dan sayangi, dan selama itu juga, pria-pria itu tidak pernah ada yang membalas perasaanku kepadanya. ups, kesannya kok nggak laku? bukannya seperti itu sih, hanya saja, adalah sebabnya yang tidak bisa aku ceritakan disini.
nah, setelah hilangnya perasaanku kepada lelaki itu, pikiranku dipenuhi dengan hidupku sendiri. hidupku yang baru saja kumulai. aku langsung memusatkan perhatianku kepada bagaimana mengurus diriku, bagaimana membuatku terlihat lebih menarik, bagaimana menjaga kondisi tubuhku, fisikku, jiwaku, bagaimana menambah kepandaianku, bagaimana memanfaatkan kemampuan yang ada pada diriku secara maksimal, segala macam hal yang berhubungan dengan diriku langsung aku pikirkan dan pikiranku selalu terpusat kepada diriku, dan pekerjaanku. aku melupakan perasaan yang dikenal dengan istilah “suka” ataupun “sayang” tersebut.
hidupku pun berlangsung dengan gembira, setiap harinya selalu menarik dan membahagiakan. mungkin itu adalah pertama kalinya dalam hidupku ketika aku bebas dengan diriku sendiri. hanya ada aku dan aku. perasaan itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, aku menikmati setiap waktuku. dan bila ada orang yang bertanya, “siapa pacar kamu?” atau pertanyaan semacam itu, aku akan dengan mudah menepisnya, menganggap pertanyaan itu sebagai angin lalu, dan bukannya pertanyaan yang mengganggu.
namun, rupanya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. satu bulan setelah aku mengakhiri perasaanku terhadap lelaki tadi, aku bertemu dengan seorang pria di sebuah acara. rupanya tidak terlalu tampan, namun menarik dan menyenangkan untuk dilihat. ketika berbincang-bincang pun, sambutannya ramah sekali. cukup mengherankan, karena aku bukanlah tipe wanita yang bisa berbincang dengan mudah kepada seorang pria yang baru dikenal. namun pria ini, rupanya bisa membuatku cukup aman dan nyaman, sehingga aku dengan mudah berbincang dengannya.
hari pun berlalu, hubunganku dengan pria ini pun berlangsung dengan baik (sebagai kawan baru). seiring dengan kesibukan masing-masing, kami pun jarang berhubungan kembali. paling hanya sekedar saling sapa melalui fitur chat. dan hidupku pun kembali bahagia dan damai, masih dengan fokus hanya kepada diriku.
hal ini berlangsung demikian cepat, hingga kurang lebih tiga bulan berikutnya, ketika aku bertemu kembali dengan pria ini. kini kami telah menjadi keluarga karena hubungan pernikahan saudara kami. dalam dua hari yang padat dan penuh dengan kegiatan itu, aku bisa bersama dengannya lebih lama dibandingkan biasanya, karena kami menginap di tempat yang sama dan kegiatan yang sama pula. aku menikmati setiap waktuku bersamanya. jika dia menghilang, aku akan menjadi kelabakan dan mencari kesana kemari, sekedar mencari sosoknya, dan seringkali menemukannya sedang bersama sosok-sosok lain yang tidak kukenal.
hari pun berlalu, esok paginya kami sarapan bersama. sangat menyenangkan, dia bercerita mengenai kisah cintanya yang masih belum jelas. aku mendengarkannya dengan ragu, menyimak, namun sekaligus tidak tahu harus pasang wajah yang bagaimana ketika mendengarkan ia bercerita mengenai mantan kekasihnya. aku berada di posisi yang kurang mengenakkan. pagi berganti menjadi siang, kami harus segera check-out. maka berpisahlah aku darinya. ingin sekali rasanya aku tetap berada di situ, tapi tentu hal itu tidak bisa dilakukan. maka aku pun hanya bisa memandangnya berlalu. waktu berlalu, aku masih ingin berinteraksi dengannya, tapi dunia nyata segera kembali kepada kami. dia harus bekerja, dan aku pun harus kembali pada aktivitasku.
aku sadar, aku mulai memiliki perasaan terhadapnya. bahkan sejak pertama kami berjumpa. oh ya itu benar, aku adalah tipe orang yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. tapi aku selalu mencoba untuk menghindari memiliki perasaan itu terhadapnya, karena aku takut, kalau hubungan kami tidak berjalan mulus, bisa-bisa hubungan keluarga yang telah kami miliki menjadi rusak. karena itu aku diam saja. tapi hati memang tidak bisa dibohongi, terkadang perasaanku berjalan lebih cepat daripada otakku.
kemarin, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajak dia pergi. hal yang semula kukira tidak akan kulakukan, namun kupikir, apa salahnya dicoba? toh dia sepertinya orangnya bukan tipe yang akan terlalu kejam terhadap seorang wanita yang menyukainya? sambutannya sungguh ramah, seperti yang biasa dia lakukan. kami berbincang cukup lama di telepon, dan terhenti karena aku harus pulang, dan dia juga harus berbenah.
hari ini, aku meneleponnya kembali. menanyakan kepadanya mengenai rencana bepergian kami. jawaban yang kudengar, tidak jauh berbeda dengan apa yang kupikir akan kuterima. dia menolak untuk pergi pada waktu sekarang-sekarang ini. alasannya tidak bisa kuceritakan, namun aku kurang bisa menerima alasannya.
sore itu, aku sengaja membiarkan diriku terpuruk ke dalam perasaan tidak menyenangkan, seperti yang biasa kita dapat setelah kita ditolak klien, atau semacamnya. lantas ketika aku sholat, aku berdoa, bertanya kepada Allah, mengapa aku memiliki hal yang disebut dengan “perasaan”? untuk apakah perasaan itu bila selalu tidak berbalas?? aku bertanya, bertanya, dan berharap! lantas aku memohon kepadaNya, agar menghilangkan perasaan ini dari diriku. bila memang belum waktunya bagiku untuk bertemu jodohku, mohon hilangkan dulu segala perasaan ini. jauhkan perasaanku dari dirinya bila dia bukan untukku, Ya Allah!
aku berharap sekali…betul-betul berharap, untuk tidak memiliki perasaan ini selama beberapa saat… selama ini kisah cintaku tidak ada yang berbuah manis, aku sudah bosan dengan segala hal yang pahit itu, aku ingin yang manis… yang menyenangkan bila dirasakan, bahkan dikenang… otakku dipenuhi dengan segala pertanyaan yang pada akhirnya kujawab sendiri, yang sebetulnya aku sudah tahu apa jawabannya, namun hati ini berteriak, “mengapa??”
aku hanya ingin menjalani masa mudaku dengan menyenangkan. bila aku hanya fokus kepada diriku sendiri, aku bahagia. bila aku fokus kepada diriku, dan seorang lagi yang lain, tidak selalu membahagiakan. memang menyenangkan, namun aku sudah bosan, aku sudah muak dengan segala penolakan yang bahkan tidak pernah terucap!
bila rasa ini selalu ada, sebetulnya apa manfaatnya untuk diriku?
bila jawabannya adalah agar aku lebih memahami diriku dan diri orang lain, kurasa aku bisa belajar dari hal yang lainnya.
bila jawabannya adalah agar aku selalu bersabar, sepertinya aku sudah cukup bersabar selama ini.
bila jawabannya adalah karena aku belum boleh untuk memiliki seorang pasangan, apakah aku boleh bertanya, kapankah waktu yang tepat untukku?
pikiranku sudah kosong. hati yang semula cerah, berubah menjadi kelabu karena perasaan takut ditolak kembali hadir dalam hatiku. walaupun tadi hatiku sudah cerah kembali, namun, sepertinya kelabu tadi masih menyisakan mendung….
untuk hari ini saja, ijinkanlah aku sedikit bermuram durja. esok pagi, ketika mentari kembali bersinar, menyapukan angin lembut, aku akan kembali tersenyum, kembali hidup dengan semestinya, sebagaimana harusnya. dan aku akan mencoba menjalani perasaan ini dengan seutuhnya, apapun yang menanti di baliknya. memang sebaiknya aku tidak berhenti mencoba, karena kesempatan hanya muncul satu kali. apakah kita menangkapnya, ataukah tidak? kesempatan hanya lewat…ia hanya mampir, setelah itu ia pergi kembali. dan aku akan mencoba mempertaruhkan kembali perasaanku kali ini, hanya bila aku mendapat ijin dariNya. aku akan terus berdoa memohon petunjukNya…
.nonasiput yang ntah mengapa semakin mendekati akhir tulisan, semakin blank. dan kenapa blog ini jadi kaya novel ya???.